MILLENIALS : The Job-Hopping Generations

Berdasarkan sebuah jurnal bisnis dari Gallup.com, bahwa 21% millennials mengakui dalam setahun telah berpindah-pindah pekerjaan (job-hopping), dengan jumlah tiga kali lebih banyak dari para non-millennials. Bahkan dengan pekerjaan saat ini, sebagian dari millenials berencana untuk hanya bertahan selama satu tahun ke depan.
Salah satu yang diduga menjadi penyebab utama dari kondisi ini adalah, kurangnya tingkat engagement atau keterlibatan generasi millennial baik dari segi emosional maupun perilaku terhadap perusahaan tempat mereka bekerja. Akibatnya, tingkat turnover yang tinggi pun tak dapat dihindari (jobplanetindonesia, 2016).

Dikutip dari sebuah artikel Forbes berjudul “Millennials, Stop Apologizing For Job-Hopping” ada beberapa faktor yang menyebabkan generasi millenials sering berganti pekerjaan, yaitu :

1. Meningkatkan Pendapatan

Kebanyakan orang berpikir, millennial seringkali berganti pekerjaan karena mengejar gaji yang lebih tinggi. Hal tersebut tidak sepenuhnya salah, kebanyakan job-hopper memang mendapatkan gaji yang lebih tinggi dari perusahaan sebelumnya, tetapi hal ini tidak terjadi kepada semua job-hopping.

Berbagai alasan lain dapat mendasari karyawan keluar dari perusahaannya. Bahkan ada karyawan yang rela membayar denda untuk resign, hal ini menunjukkan bukan uang saja yang menjadi motivasi karyawan seringkali berpindah pekerjaan.

2. Perkembangan Karir

Survey yang dilakukan oleh LinkedIn menyatakan sebanyak 59% respoden acak memilih pekerjaan baru untuk mendapatkan pengalaman baru dan mengembangkan kompetensi. Millennial beranggapan setiap perusahaan baru akan memberikan ilmu dan pengalaman baru yang berguna bagi kompetensi millenial.

Seiring dengan perkembangan jaman, stigma negatif mengenai millinials yang sering berpindah perusahaan mulai menghilang. Berdasarkan survey yang di lakukan oleh Robert Half, 57% responden yang termasuk dalam generasi millenials mengemukakan bahwa stigma buruk mengenai perpindahan pekerjaan yang cukup sering sudah mulai berkurang.

Beberapa millennials yang kini sudah memiliki jabatan yang cukup tinggi akan lebih suka memperkerjakan karyawan dengan pengalaman dan pengetahuan mengenai kompetitor perusahaan dan mudah belajar. Tentunya job-hopper yang mereka cari memiliki kriteria tertentu seperti contoh, seorang manager tidak akan meng-hire job-hopper yang kurun waktu kerja dalam perusahaannya kurang dari setahun. Biasanya yang manager pertimbangkan ialah job-hopper yang memiliki kurun waktu kerja 13 - 36 bulan dalam sebuah perusahaan dimana karyawan tersebut sudah mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baru yang mampu berguna di perusahaan.

Perkembangan industri bisnis internasional mendorong perubahan prespektif karyawannya, millennials tidak akan ragu-ragu meninggalkan pekerjaannya jika melihat peluang yang lebih besar atau menantang di perusahaan baru. Loyalitas bukan sesuatu yang popular karena millennials sangat haus akan perkembangan dan hal-hal baru yang mampu mengerakan motivasi millenials untuk target pencapaian yang diharapkan.

By : Recruitment Corporate Summarecon


Article Source :

http://www.forbes.com/sites/kaytiezimmerman/2016/06/07/millennials-stop-apologizing-for-job-hopping/#41e15fdc697d

https://www.instagram.com/p/BG8Q4pulQsQ/?taken-by=...



Share this Post:

Related Posts: