Quiet Thriving:Cara Baru Untuk Berkembang

Quiet Thriving: Cara Baru Untuk Berkembang

Pernah nggak sih merasa sudah datang kerja setiap hari, menyelesaikan semua tugas, tapi tetap merasa ada yang kosong? Fenomena ini ternyata sudah umum di kalangan Gen Z yang secara sadar menolak hustle culture karena dampaknya terhadap kesehatan mental. Tren serupa pun mulai terasa di kalangan pekerja muda Indonesia. Di sini, quiet thriving hadir sebagai pilihan aktif untuk berkembang dengan cara yang lebih sehat, bermakna, dan berkelanjutan.

1. Bukan Sekadar Bertahan, Tapi Benar-Benar Berkembang - Quiet thriving mendorong kita mencari makna dalam pekerjaan secara realistis, tanpa memaksakan diri. Seperti karyawan yang mulai rutin berdiskusi dengan manajernya soal jalur karir, karena sadar kontribusinya punya dampak lebih besar dari sekadar menyelesaikan tugas harian.

2. Sisipkan Ruang Belajar Sesuai Minatmu - Rutinitas yang sama setiap harinya sering menjadi pemicu kebosanan. Quiet thriving mengajarkan kita untuk berkembang diam-diam, cukup dengan belajar hal baru yang relevan dengan pekerjaanmu, tanpa tekanan harus langsung berdampak besar. Perlahan, pekerjaan terasa lebih bermakna dan produktivitas hadir sebagai pendukung dalam berkarir.

3. Keseimbangan Hidup & Fleksibilitas - Quiet thriving mengingatkan bahwa keseimbangan hidup adalah sebuah kebutuhan. Menetapkan batasan, seperti tidak lembur di akhir pekan, bukan menjadikan kamu sebagai orang yang kurang produktif. Begitu pula dengan fleksibilitas kerja, bukan sekadar soal work from anywhere, tapi tentang punya kendali penuh atas perjalanan hidup dan pekerjaanmu.

4. Pilih Lingkungan yang Selaras dengan Nilai Kamu - Quiet thriving mulai tumbuh ketika ada kecocokan antara nilai pribadi dan nilai perusahaan. Ini bisa sesederhana seorang karyawan yang memilih untuk pindah ke divisi atau proyek yang lebih sesuai dengan passion-nya. Ketika pekerjaan serasi secara personal, keterlibatan pun meningkat dengan 

5. Ciptakan Momen Kecil yang Kamu Tunggu - Kebahagiaan di kantor tidak selalu datang dari promosi atau pencapaian besar. Terkadang, hal sesederhana seperti kopi favorit di jam tertentu sudah cukup memberi energi untuk hari padat. Quiet thriving tumbuh dari kesadaran bahwa tidak semua hari harus luar biasa, melainkan cukup ada satu hal kecil yang bikin kamu tersenyum.

 

By: Corporate Recruitment PT. Summarecon Agung, Tbk 

https://www.forbes.com/councils/forbestechcouncil/2023/07/03/from-quiet-quitting-to-quiet-thriving-unleashing-the-power-of-purpose/ 

https://www.kompasiana.com/malaa5530/677bf42bc925c458823f6fe8/bagaimana-quiet-thriving-menentang-hustle-culture-dan-membentuk-pilihan-hidup-baru-bagi-gen-z 

https://www.idntimes.com/life/inspiration/strategi-quiet-thriving-buat-kamu-yang-lagi-jenuh-c1c2-01-hzvm8-59fp0q